Latar Belakang

Sebagai country kepulauan terbesar dunia, posisi geografis Indonesia membentang di atas koordinat 6 lu – 11.08’ LS dan 95 BT – 141.45’ BT dan terletak middle dua benua, Asia di utara, Australia di Selatan, dan dua samudera yaitu Hindia/Indonesia di barat dan pacific di timur. Batin perspektif geopolitik, bentangan lokasi geografis ini tentu saja menjadikan Indonesia such Negara yang memiliki bargaining power dan bargaining positionstrategis batin percaturan dan menghubung antar bangsa, baik dalam lingkup kawasan maupun global. Hal ini ayo pergi dari pemikiran bahwa ruang merupakan inti dari geopolitik untuk di sana merupakan wadah dinamika politik dan militer. Penguasaan ruang secara de facto dan de jure merupakan legitimasi dari force politik. Bertambahnya kamarnya negara ataukah berkurangnya ruang bangsa oleh berbagai types sebab, selalu dikaitkan mencapai kehormatan dan kedaulatan bangsa dan negara (Sunardi, 2000, 33 – 35). Sementara itu, hubungan antar negara senantiasa berwarna oleh kontes dan kerjasama. Batin hubungan tersebut, setiap negara berupaya untuk mencapai dan mengamankan kepentingan nasionalnya menggunakan semua instrumen kekuatan nasional dimilikinya. Di dalam kaitan kepentingan nasional itulah, negara Indonesia tentu saja harus senantiasa timbul dan memiliki kesadaran ruang (space consciousness) dan kesadaran geografis (geographical awareness) kemudian Negara kepulauan. Chapter ini logis dan sangat radikal mengingat, di satu sisi, lokasi geografis yang strategis dan suspended serta berhubungan dengan keragaman potensi sumber properti alam, tentu saja merupakan pilihan dan manfaat bagi negara Indonesia dalam mewujudkan cita-cita dan sasaran nasionalnya. Namun di sisi lain, berposisi geografis yang menjadi perlintasan dan bertemu kepentingan berbagai negara ini, ikut pula kerawanan dan kerentanan karena pengaruh development lingkungan strategis yang dapat berkembang dulu ancaman bagi ketahanan negara dan pertahanan Negara.

Anda sedang menonton: Kondisi keamanan indonesia saat ini

Berbagai pengaruh dan kerusakan negatif dari evolusi lingkungan strategis apa disertai berubahnya persepsi dan tampilan malam ancaman terhadap eksistensi maupun kedaulatan bangsa, kala harus dicermati dan disikapi oleh negara Indonesia secara sungguh–sungguh. Hal ini penting mengingat kemajuan ilmu pengetahuan teknologi, insula dan komunikasi (Information and Communication technologies – ICT) telah berimplikasi semakin berkembangnya peperangan modern batin bentuk Asymmetric Warfare dan Proxy War. Oleh karena itu, deviasi satu upaya yang harus dulu fokus heed segenap komponen bangsa adalah kemandirian batin penguasaan, pengembangan dan pemanfaatan teknologi di berbagai bidang. Batin konteks bangunan ketahanan nasional aspek pertahanan keamanan, maka penguasaan, pengembangan dan pemanfaatan teknologi merupakan cara cerdas buat mengantisipasi dan menghadapi ancaman militer maupun ancaman nir militer. Terkait chapter tersebut, keberadaan Resimen mahasiswanya ITB “Resimen Teknologi”, pribadi relevansi apa sangat strategis batin memperkuat asetnya pertahanan bangsa di masa damai maupun di masa perang. Pantas dengan kapasitas, kapabilitas dan kompetensinya, peranserta dan partisipasi active Menwa ITB “Resimen Teknologi” semakin dibutuhkan untuk melipatgandakan kekuatan dan kemampuan pertahanan negara di dalam menghadapi potensi ancaman Asymmetric Warfare maupun Proxy War.

Geopolitik dan Geostrategi Indonesia.

Keberlangsungan hidup dan eksistensi suatu bangsa, mendesak dipengaruhi malalui kemampuan country tersebut di dalam memahami dan menguasai kapak geografi serta lingkungan sekitarnya. Ditanam kembangnya ataukah berkurangnya ruang kehidupan bangsa, tambahan dipengaruhi melalui pandangan geopolitik apa diyakini melalui entitas suatu bangsa. Menurut Sophie Chautard dalam bukunya La Geopolitique, “Geopolitik ndak ilmu pengetahuan murni, melainkan sebuah multidisiplin ilmu apa mempelajari hubungan antar ruang dan politik, antara teritorial dan individu. Meletakkan segenap masalah di ~ aspek geografi yang memungkinkan kita menganalisa kondisi saat ini, memahami hubungan satu kejadian menjangkau kejadian lainnya”. Pandangan Gearoid O’ Tuathail menyatakan bahwa, “Geopolitik tidak memiliki makna atau identitas tunggal apa mencakup segala hal….. Geopolitik merupakan suatu wacana, yaitu suatu cara penggambaran, perwakilan dan penulisan kyung geografi dan politik internasional apa sangat beragam secara kultural dan politik.” di dalam pidato peresmian Lemhannas RI lima 1965, Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, menegaskan bahwa pertahanan nasional just dapat dilaksanakan secara sempurna, bila suatu negara mendasarkan pertahanan nasional overhead pengetahuan geopolitik. Wawasan Nusantara. Pengetahuan geopolitik yang dimaksud adalah geopolitik Indonesia yang dikembangkan berdasarkan tiga faktor yang form karakter negara indonesia, yaitu sejarah lahirnya negarabangsa dan tanah air,serta cita – cita dan ideologi bangsa. Berdasarkan ketiga chapter tersebut, negara indonesia telah mengembangkan pandangan geopolitik yang bersumber pada cost – pengeluaran kesejarahan yang sudah dimulai since era prakolonialisme hingga era khanh RI.

Pandangan yang bersumber diatas kesamaan pengalaman pahit sejarah, pada akhirnya menghasilkan konsepsi Wawasan Nusantara such pandangan geopolitik yang memandang utama nusantara such ruang hidup apa harus dipertahankan dan dikelola sebagai sumber kehidupan negara Indonesia dalam mencapai hasil dan cita – cita nasional. Secara formal, Wawasan Nusantara dipahami dan dimengerti seperti cara pandang country indonesia kyung diri dan lingkungan keberadaanya dalam memanfaatkan kondisi dan konstelasi geografi mencapai menciptakan tanggungjawab dan motivasi ataukah dorongan bagi seluruh negara indonesia untuk mencapai tujuan nasional. Sebagai wawasan nasional, konsepsi Wawasan Nusantara menganut filosofi radikal geopolitik Indonesia yang mengutamakan vereinigung dan kesatuan bangsa. Such hasil perenungan filsafat sekitar diri dan lingkungannya, Wawasan Nusantara mencerminkan pula dimensi argumentasi mendasar negara Indonesia yang mencakup dimensi kewilayahan kemudian suatu realitas serta dimensi kehidupan, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebagai suatu fenomena hidup. Kedua dimensi penalaran tersebut merupakan keterpaduan pemikiran dalam dinamika kehidupan pada seluruh aspek kehidupan nasional apa berlandaskan Pancasila. Dengan principle inilah, seyogyanya setiap elemen dan anak bangsa harus mampu memandang, menghormati serta kelola sifat dan ilustrasi geografis lingkungannya yang sarat dengan potensi dan risiko ancaman. Pola pikir, pola sikap dan pola tindak country Indonesia harus paham, akrab dan menyatu dengan basi geografis pulau-pulau indonesia sebagai ruang, alat dan kondisi juang buat mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Ketahanan Nasional. Diatas hakikatnya Ketahanan Nasional merupakan kapak sekaligus konsepsi pembangunan nasional dalam pencapaian gawangnya dan cita – cita bangsa. Such suatu kondisi, Ketahanan Nasional merupakan kondisi dinamis bangsa apa berisi tuhan serta keuletan dan kemampuan bangsa karena mengembangkan kekuatan nasional di dalam menghadapi segala macam dan bentuk ancaman, tantangan, hambatan, dan intervensi baik apa datang dari di dalam maupun luar, apa mengancam dan membahayakan integritas, identitas serta kelangsungan kehidupan bangsa dan negara.Sebagai kondisi, Ketahanan Nasional merupakan kondisi kehidupan nasional apa harus benar-benar menyadari dan dibina secara dini, terus menerus, terpadu dan sinergis. Such konsepsi, Ketahanan Nasional merupakan landasan konsepsional strategis yang sekaligus merupakan berlimpah analisis buat memecahkan berbagai permasalahan strategis bangsa melalui pendekatan 8 (delapan) aspek kehidupan nasional (asta gatra) yang terdiri dari 3 (tiga) aspek alamiah (tri gatra) yang bersifat statis dan 5 (lima) aspek hayatnya (panca gatra) yang bersifat dinamis. Peran dan hubungan diantara kedelapan gatra saling terkait dan saling tergantung secara menyelesaikan menyeluruh form tata laku masyarakat di dalam kehidupan nasional. Dalam implementasinya, ketahanan nasional diselenggarakan mencapai mengutamakan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) dan pendekatan kerahasiaan (security approach) apa serasi, selaras dan seimbang. Kesejahteraan dapat digambarkan such kemampuan bangsa dalam menumbuhkan dan meningkatkan nilai-nilai nasionalnya demi sebesar-besar kemakmuran apa adil dan merata, rohaniah, dan jasmaniah. Sementara itu, kerahasiaan harus dipahami such kemampuan bangsa dalam melindungi nilai-nilai nasionalnya terhadap ancaman dari luar dan dari dalam, tersirat di dalamnya melindungi pancasila kemudian dasar negara (philosophi gronslag). Di dalam perspektif Ketahanan Nasional, pertahanan negara Indonesia noël terlepas dari pengaruh dan dinamis kondisi yang terkait dengan delapan aspek kehidupan nasional di atas. Konsep keseimbangan dan saling keterkaitan antar satu gatra menjangkau gatra berbeda serta sistem pertahanan negara yang bersifat kesemestaan, cermin adanya keterhubungan apa kuat antara kondisi Ketahanan Nasional dengan Pertahanan negara secara menyeluruh. Oleh buat itu, pembinaan dan pengkondisian Ketahanan Nasional batin berbagai aspeknya, menjadi menentukan kualitas defence Negara, baik di masa damai maupun di dalam masa perang. Kualitas pertahanan Negara menjadi berbanding lurus dengan terms Ketahanan Nasional apa dimiliki, artinya setiap perubahan kondisi Ketahanan Nasional bangsa, menjangkau sendirinya ini adalah berpengaruh terhadap kualitas pertahanan negara di dalam implementasinya.

Nasionalisme dan Wawasan Kebangsaan Indonesia.

Sejarah mencatat bahwa setidaknya ada empat hal yang dapat dulu perekat bangsa, yaitu pertama, jaringan perdagangan di masa lampau; kedua, penggunaan bahasa yang sejak 1928 untuk kita sebut seperti bahasa Indonesia; ketiga, imperium Hindia-Belanda sesudah paxneerlandica, dan keempat, pengalaman bersama hidup kemudian bangsa Indonesia since 1945. Tangani itu pembentukan negara Indonesia diawali melalui keinginan buat lepas dari penjajahan dan ingin luaran kehidupan apa lebih baik bebas dari penindasan dan bebas untuk melakukan what yang diinginkan kemudian sebuah bangsa apa dibalut di dalam rasa Nasionalisme. Then Kerangka cita-cita Nasional (bangsa) tersebut terangkum apik dalam pembukaan UUD 1945, dengan negara republik Indonesia kemudian pengemban amanah dari kedaulatan rakyat Indonesia. Pertumbuhan wawasan kebangsaan Indonesia bersifat unik dan noël dapat disamakan dengan pertumbuhan nasionalisme negara lain. Walaupun rasa “persatuan” ke-Indonesia-an telah bertunas lama batin sejarah country Indonesia, namun semangat kebangsaan atau nasionalisme ke-Indonesia-an dalam arti yang sesungguhnya, secara formal baru lahir diatas permulaan abad ke-20. Semangat kebangsaan tersebut lahir seperti reaksi perlawanan terhadap kolonialisme yang telah berlangsung berabad-abad lamanya. Karena itu, nasionalisme Indonesia kontemporer terutama berakar di ~ keadaan country Indonesia di atas abad keduapuluh, namun mayoritas dari akar-akarnya berasal dari lapisan sejarah yang jauh lebih basi (Kahin, 1970). Kebangkitan dan lahirnya semangat kebangsaan dan nasionalisme Indonesia pada awal abad ke-20, ditandai melalui tiga inert sejarah apa saling terkait erat dan tidak dapat dipisahkan, yaitu : Kebangkitan nasional lima 1908, Sumpah Pemuda five 1928 dan Proklamasi khanh RI lima 1945. Ketiga momentum sejarah tersebut, merupakan rangkaian proses terbentuknya nasionalisme Indonesia apa sarat dengan biaya – pengeluaran keIndonesiaan. Semangat kebangsaan dan nasionalisme Indonesia berpijak di atas sistem biaya dan pandangan lives bangsa Indonesia. Hal ini tercermin batin pidato Bung Karno (7 Mei 1953) di universitas Indonesia, yang intinya ialah: Pertama, nasionalisme Indonesia bukan nasionalisme kecil (chauvinism) tetapi nasionalisme apa mencerminkan perikemanusiaan (humanisme, internasionalisme); Kedua, kanchi Indonesia tidak just bertujuan karena menjadikan negara apa berdaulat secara politik dan ekonomi, tetapi also mengembangkan kepribadian sendiri atau kebudayaan yang “bhinneka tunggal ika”.

Menurut Notonagames-online4.comro, seorang lancar filsafat dan tindakan dari universitas Gajah Mada, nasionalisme dalam konteks Pancasila bersifat “majemuk tunggal” (bhinneka tunggal ika). Unsur-unsur yang membentuk nasionalisme Indonesia adalah kemudian berikut: 1. Tangga Sejarah. Yaitu kesatuan yang dibentuk batin perjalanan sejarahnya yang panjang sejak zaman Sriwijaya, Majapahit dan munculnya kerajaan-kerajaan Islam hingga akhirnya muncul penjajahan VOC dan Belanda. Secara melarang nasionalisme mula pertama dicetuskan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan menjangkau puncaknya pada Proklamasi kemerdekaan RI diatas 17 Agustus 1945. 2. Tangga Nasib. Bangsa Indonesia terbentuk untuk memiliki sederajat nasib, yaitu litt selama masa penjajahan dan perjuangan merebut kemerdekaan secara memutuskan dan bersama-sama. 3. Normal Kebudayaan. Walaupun bangsa Indonesia luaran keragaman budaya dan menganut agama yang berbeda, namun keseluruhannya akun itu merupakan satu kebudayaan yang serumpun dan mempunyai kaitan mencapai agama-agama besar apa dianut country Indonesia. 4. Sekutunya Wilayah. Country ini hidup dan search penghidupan di wilayah yang sama yaitu tumpah darah Indonesia. 5. Sekutunya Asas Kerohanian. Country ini memiliki kesamaan cia-cita, pandangan kehidupan dan falsafah kenegaraan yang berakar dalam pandangan kehidupan masyarakat Indonesia sendiri di masa lalu maupun pada masa kini. Bagi bangsa Indonesia, kutipan sejarawan sosial Charles Tilly, Nasionalisme kita adalah “state-led nationalism”.1 Semacam nasionalisme apa dibangun dari atas, dan lalu meluncur ke bawah. Artinya, negara harus form watak dan malu serta memberi arah bagi anak bangsa. Negara harus melakukan konstruksi wawasan kebangsaan such “proyek bersama” (common project) bagi seluruh warganya. Namun demikian, maafkan saya yang diupayakan negara tentu saja harus dipahami, dimengerti dan didukung malalui seluruh anak bangsa tanpa terkecuali.

Globalisasi dan Tantangannya.

Pada hakikatnya, globalisasi merupakan proses hubungan antarbangsa yang sudah terjadi darimana berabad lalu. Proses ini berkembang dari waktu usai waktu sejalan menjangkau perkembangan ideologi, politik, ekonomi dan sosial budaya. Perkembangan serta progress ilmu pengetahuan teknologi insula dan komunikasi, telah mendorong tautan sosial dan saling bergantung antarbangsa, antarnegara dan antar umat ​​manusia semakin besar. Globalisasi yang didominasi melalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi, telah merubah pola koneksi antar bangsa dalam berbagai aspek dan menjadikan globalisasi sebagai fenomena yang bersifat multidimensi. Bangsa seolah tidak punya batas (borderless), saling tergantung (interdependency) dan saling menghubung (interconected) antara satu country dengan bangsa lainnya. Sementara itu, dominasi negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang semakin menguat malalui konsep pasar bebas batin lingkup worldwide maupun regional. Di pusat kuatnya arus globalisasi yang ditandai mencapai persaingan global, saat ini noël ada satupun bangsa di dunia apa mampu standing sendiri. Saling bergantung dan saling keterhubungan merupakan hal apa sulit karena dihindari. Era reformasi apa diawali krisis moneter lima 1998, merupakan bukti kuatnya pengaruh globalisasi terhadap dinamika kehidupan nasional. Sejak era untuk merevolusi digulirkan lima 1998, dari perspektif kehidupan demokrasi, kehidupan politik nasional mengalami kemajuan apa sangat signifikan. Gratis dan keterbukaan batin menyampaikan pendapat, were ciri kehidupan social sehari–hari. Di satu sisi, pencapaian ini kala merupakan perkembangan dan prestasi geram bangsa. Namun di sisi lain, noel dapat disangkal, bahwa keseharian kehidupan social telah diwarnai pola pikir, pola sikap dan pola tindak personalis dan kelompok. Social luas, di dalam berbagai tataran, telah mengadopsi pengeluaran – cost baru yang belum jenuh dipahami serta diyakini fact dan kesesuaiannya dengan ilustrasi bangsa. Sementara, nilai – cost luhur bangsa dianggap sebagai nilai lama yang usang dan sudah noël relevan mencapai semangat reformasi yang sarat menjangkau semangat perubahan. Semangat perubahan telah diartikan secara hitam putih dan bahkan masser pragmatis tidak punya memperhatikan dampak yang diakibatkannya.

Dinamika hayatnya nasional berjalan sangat dinamis tapi menangkal produktif bagi penguatan wawasan kebangsaan. Tabrakan demokratisasi tidak didasari dengan pemahaman nilai-nilai Pancasila telah memunculkan sikap individualistis apa sangat kurang sopan berbeda menjangkau nilai-nilai Pancasila apa lebih prioritas semangat kegames-online4.comtongroyongan, keseimbangan, kerjasama, saling menghormati, kesamaan, dan kesederajatan dalam hubungan manusia dengan manusia. Perubahan tata cost dan tata laku sebagian besar komponen negara tercermin dari sikap pragmatisme di dalam menyikapi dan menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa. Bab ini juga dirasakan dan diungkapkan oleh mantan Presiden BJ Habibie dan tengah Megawati dalam sambutannya di hadapan MPR RI di atas tanggal 1 Juni 2011 di dalam rangka memperingati Pidato Bung Karno 1 Juni 1945. Batin sambutannya Bapak BJ Habibie menyampaikan:“……sejak reforming 1998, Pancasila seolah-olah tenggelam batin pusaran sejarah masa lalu apa tak another relevan buat disertakan dalam dialektika reformasi. Pancasila seolah hilang dari memori kolektif bangsa. Pancasila semakin langka diucapkan, dikutip, dan dibahas baik dalam konteks hayatnya ketatanegaraan, kebangsaan maupun kemasyarakatan. Pancasila such tersandar di sebuah lorong sunyi justru di markas besar denyut kehidupan bangsa Indonesia apa semakin hiruk-pikuk dengan demokrasi dan kebebasan berpolitik” medang Megawati tambahan menyampaikan bahwa“……dalam kurun 13 lima reformasi, menunjukkan kealpaan kita segenap terhadap dokumen penting seperti rujukan Pancasila di dalam proses ketatanegaraan kita”. Ekspresi dan kegundahan detik tokoh nasional tersebut, tentu merupakan bentuk kegelisahan apa harus dijadikan tolok ukur fanish pemahaman sosial terhadap wawasan kebangsaan yang dijiwai oleh biaya – pengeluaran luhur Pancasila. Hingga saat ini, Pancasila masih tampak kuat berdiri mempersatukan berbagai komponen bangsa, suku bangsa, games-online4.comlongan dan etnik di bawah NKRI. Namun, negara ini harus gerbong jujur karena mengakui bahwa Pancasila kemudian dasar negara masser dipandang hanya sebatas simbol apa mulai kehilangan roh dan makna filosofinya. Noel mengherankan, apabila saat ini Nasionalisme ataupun Wawasan kebangsaan keIndonesia-an, menjadi barang mewah yang sangat padat ditemukan di kalangan generasi muda. Wawasan kebangsaan ndak merupakan sesuatu apa menarik buat dibahas ataukah bahkan menjadi trendsetter batin kehidupan kalangan muda. Bisa ada benarnya bila kerumunan orang ringkasan bahwa generasi bocah Indonesia sedang mengalami krisis wawasan kebangsaan. Wawasan kebangsaan, kini terasa dulu sesuatu apa bersifat ekstrak tak tersentuh dan mengalami sebuah pendangkalan makna secara mendasar. Globalisasi apa menembus batasbatas negara telah redup persepsi dan wawasan kebangsaan, sesuatu apa justru merupakan hal yang sangat esensial dalam mempertahankan eskistensi dan kedaulatan negara. Oleh buat itu, berbicara soal wawasan kebangsaan menjadi terdengar asing, dan bagi mereka apa berapi-api membelanya akan dianggap seperti anomali ditengah kehidupan modern. Deviasi satu tantangan dalam pergeseran seisme global era baru, yakni meningkatnya kompetisi secara eksponensial, dengan demikian teknologi telah membuat satu bangsa dapat bersaing dengan negara lain, buat itu secara terus-menerus diperlukan pengembangan cara baru untuk berkompetisi dengan bangsa lain, oleh inovasi dan efisiensi, namun firmicutes mengedepankan kualitas. Tak satu bangsa pun bisa ~ bertahan hanya dengan sekadar menyejajarkan ourselves dengan pesaing ataukah bahkan dengan mereka yang dianggap unggul, melainkan country ini harus menyejajarkan diri dengan mereka yang masuk “kelas dunia”. Di pusat semakin kaburnya wujud dan bentuk ancaman apa berkembang dewasa ini, potensi ancaman noel lagi dalam bentuk ancaman apa bersifat fisik. Invasi batin bentuk direkrut kekuatan militer tidak lagi menjadi pilihan bagi negara – negara luaran kepentingan atas bangsa lain. Ideologi, politik, ekonomi dan biakan kini merupakan peluang negara – negara lain untuk memaksakan kepentingannya dan “menaklukan” bangsa lainnya. Namun demikian, dampak yang ditimbulkan bersentuhan hampir seluruh memerintah – kepala kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di perkotaan maupun hingga pelosok desa.

Dunia kini juga dihadapkan mencapai perang apa dilakukan malalui pihak ketiga tanpa keterlibatan langsung pihak yang berkepentingan ataukah disebut Proxy War. Halaman tersebut dilakukan melalui pihak berkekuatan besar buat menghindari konfrontatif secara segera dan menghindarkan terjadinya kediktatoran terbuka apa akan ditinggalkan tanggung jawab besar. Andrew Mumford dalam bukunya Proxy Warfare, mengacu pada bahwa ancaman kediktatoran cyber (cyber warfare) kian membesar di masa dokter seiring mencapai intensnya penggunaan teknologi cyber di dalam penggunaan sehari-hari. Dunia maya (cyber) kini were sarana dan arena berperang apa melibatkan banyak pihak tanpa dibatasi malalui batas – batas negara. Transformasi bentuk ancaman ini, tentu saja harus disadari sepenuhnya oleh country Indonesia, mengingat tantangan dan potensial ancaman apa semakin berat dan kompleks. Disamping tantangan batin aspek teknologi, kini bangsa–bangsa di dunia, markas besar dihadapkan di ~ berbagai tantangan dan rumor global sebagai perubahan iklim (global climate change), food security, power security, terorisme, human security, kejahatan lintas negara (trans nationwide crime), drug trafficking, marine security, cyber crime, bentrok di kawasan, dll. Pemandangan sifat dan kompleksitas dampak apa ditimbulkannya, negara noel lagi were satu – satunya elemen apa bertanggung jawab untuk menghadapinya. Keikutsertaan dan peran active setiap individu roti isi daging negara menjadi menentukan keberhasilan suatu bangsa dalam mengantisipasi tabrakan negatif yang mengancam eksistensi negara dan negara. Untuk itulah, kalangan bocah harus menyadari bahwa seperti salah satu komponis kekuatan nir militer, kalangan intelektual bocah memiliki peran penting dalam mengantisipasi ancaman nir militer sesuai dengan keahlian dan kompetensi yang dimiliki. Dinamika hayatnya nasional apa dihadapkan di atas berbagai bentuk ancaman maupun persaingan global, diperlukan hadirnya sosok intelektual muda yang berkarakter dan pribadi nasionalisme kebangsaan yang kuat.

Pertahanan negara dan Bela Negara

Bagi country Indonesia, kediktatoran merupakan jalan terakhir yang terpaksa harus ditempuh untuk mempertahankan ideologi negara, khanh dan kedaulatan NKRI. Doktrin dan sistem Pertahanan country Indonesia tersebut secara tersirat reflects pandangan country Indonesia kyung konsep perang dan damai, yakni “Bangsa Indonesia dicintai damai, akan tetapi lebih tercinta kemerdekaan”. Malalui karenanya, country Indonesia noël mengembangkan ajaran circa kekuasaan dan adu kekuatan, untuk hal tersebut involves benih-benih persengketaan, permusuhan dan ekspansionisme. Indonesia mengembangkan dan menyelenggarakan warisan pertahanan negaranya batin nuansa keterbukaan, apa merupakan perwujudan prinsip cinta damai dan ingin hidup berdampingan secara harmonis dengan negara negara lain. Sikap dan cara pandang country Indonesia tersebut merefleksikan jam Geopolitik dan Geostrategi negara Indonesia yang secara jelas dituangkan di dalam Buku weiss Pertahanan Indonesia lima 2008. Sistem defence Semesta. Such penjabaran konstitusi di ~ aspek pertahanan, negara Indonesia telah menyusun Undang-Undang nomor 3 lima 2002 circa Pertahanan Negara apa menetapkan bahwa asetnya Pertahanan negara Indonesia adalah warisan pertahanan bersifat semesta apa melibatkan seluruh roti isi daging negara, wilayah, dan diperoleh daya nasional lainnya. Halaman ini merupakan upaya karena menyinergikan kinerja komponis Militer dan Nir Militer batin rangka menjaga, melindungi dan memelihara kepentingan nasional Indonesia. Sistem Pertahanan Semesta memadukan pertahanan militer dan defence nirmiliter yang saling menyokong batin menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan scammers segenap bangsa dari segala ancaman. Di dalam UU RI nomor 3 tahun 2002 kyung Pertahanan negara ditegaskan bahwa such wujud dari kesemestaan, pelibatan seluruh burger negara di dalam upaya bela negara merupakan kewajiban sekaligus haknya. UU defence Negara tambahan mengklasifikasikan bahwa bala pertahanan negara yang digames-online4.comlongkan diatas tiga kelompok, yakni Komponen utama (TNI), komponen Cadangan dan komponis Pendukung. UU RI nomor 3 lima 2002 pasal 9 ayat (2) juga menjabarkan bahwa keikutsertaan warga negara dalam upaya bela negara, diselenggarakan melalui: pelatihan kewarganegaraan; pelatihan mendasar kemiliteran secara wajib; pengabdian such prajurit TNI; dan pengabdian sesuai dengan profesi. Dengan demikian, warisan Pertahanan Semesta dilaksanakan mencapai melibatkan seluruh roti isi daging negara, wilayah, serta setiap orang sumber daya nasional apa dipersiapkan secara dini melalui pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berlanjut. Diatas masa damai, asetnya pertahanan semesta dibangun untuk menghasilkan daya tangkal yang tangguh mencapai menutup setiap ruang apa dapat dulu titik lemah. Pembangunan sistem Pertahanan Semesta di ~ masa damai dilaksanakan di dalam kerangka pembangunan nasional yang tertuang batin program pemerintah yang berlaku secara nasional. Prajurit Nasional Indonesia (TNI) di masa damai melaksanakan fungsi Operasi militer Selain autokrasi (OMSP), help lembaga pemerintah di luar Kementerian pertahanan dan masyarakat karena melaksanakan fungsi pertahanan Sipil sesuai profesinya menghadapi ancaman non-militer. Disamping itu, TNI tambahan membantu otoritasnya (dalam halaman ini Kementerian Pertahanan) batin rangka melatih dan membentuk sumber daya manusia non-TNI, potensi sumber daya alam dan buatan, serta sarana prasarana nasional karena ditransformasikan were potensi pertahanan negara diatas saat dibutuhkan.

Pada masa perang atau pada kapak negara menghadapi ancaman nyata, otoritas mendayagunakan aset Pertahanan Negara pantas dengan luwes ancaman atau tantangan apa dihadapi. Warisan Pertahanan Negara di dalam menghadapi ancaman militer memadukan defence militer dan defence nirmiliter batin susunan Komponen kepala Pertahanan, yaitu TNI, serta komponen Cadangan dan elemen Pendukung yang terdiri atas warga negara, bersumber daya alam, sumber daya buatan, serta sarana dan prasarana nasional. Komponen Cadangan dibentuk dari diperoleh daya nasional yang dipersiapkan untuk dikerahkan melalui mobilisasi guna memperbesar dan memperkuat kekuatan dan kemungkinan TNI. Spektrum Bela Negara. Di dalam perspektif lives bernegara, konsep defence negara batin masa damai maupun masa perang tersebut diatas dasarnya merefleksikan spektrum bela negara yang harus dipahami oleh setiap warganegara. Bab ini pulih bahwa setiap bangsa become senantiasa dihadapkan pada perjuangan untuk mempertahankan ruang hidup dan kepentingan nasionalnya. Oleh untuk itu, spektrum bela negara tidak terbatas di atas pemahaman bela negara secara fisik diatas masa autokrasi saja, melainkan tambahan mencakup di atas aspek yang lebih luas start dari bentuk yang paling halus (soft) hingga aspek yang most keras (hard). Bela negara di dalam spektrum apa halus atau lunak (soft) mencakup aspek psikologis (psychological) dan aspek fisika (physical). Aspek psikologis mencerminkan kondisi jiwa, karakter dan jati diri setiap warganegara yang dilandasi melalui pemahaman pengeluaran – nilai luhur bangsa, Ideologi Pancasila dan UUD NRI lima 1945. Muara kondisi psikologis ini akan direpresentasikan oleh pola pikir dan pola sikap apa mencerminkan soliditas wawasan kebangsaan, vereinigung dan kesatuan bangsa serta kesadaran bela negara. Aspek fisik pada dasarnya merupakan implementasi dan diperlihatkan bela negara aspek psikologis apa tercermin dari pola tindak secara nyata dalam perjuangan mengisi kemerdekaan melalui berbagai aktitivitas, mulai dari pengabdian pantas profesi, menjunjung tinggi namu bangsa dan negara di dalam berbagai kegiatan nasional maupun internasional, keikutsertaan aktif dalam penanganan permasalahan sosial maupun plague hingga kewaspadaan individual dalam menghadapi ancaman no fisik batin bidang ekonomi, sosial dan budaya. Bela negara dalam spektrum yang keras (hard) merupakan bentuk baik dan kewajiban perwujudan bela negara secara fisik dalam menghadapi ancaman apa didominasi malalui ancaman militer negara lain. Disadari bahwa saat ini, perang apa melibatkan kekuatan militer secara segera sudah noël menjadi model penyelesaian konflik antar dua negara. Namun demikian, sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat, negara Indonesia harus tetap pribadi kesadaran bahwa probabilitas terjadinya kediktatoran masih terutang terbuka. Kediktatoran terbatas apa terjadi di berbagai kawasan di Afrika, Afganistan dan Irak merupakan menyeluruh bahwa probabilitas kediktatoran masih menjadi peluang dalam menebang kepentingan nasional suatu bangsa. Menjangkau berbagai permasalahan perbatasan dengan country tetangga yang belum terselesaikan, maka spektrum bela country secara fisik tetap harus dipahami, dijaga dan dikembangkan secara sebanding dan profesional. Buat itu, negara telah menyusun doktrin dan sistem pertahanan semesta apa mengakomodosi ke kanan maupun tanggung jawab hukum bela negara warganegaranya secara terencana, terukur, terorganisir dan sistematis. Mekanisme pelaksanaan apa ditetapkan melalui peraturan perundangan relevan peran, saya bersedia mengurus dan tanggung jawab bahan Utama, bahan Cadangan (Kombatan) dan bahan Pendukung (Non Kombatan) harus memahami secara pleno tanpa disertai pretensi negatif apa melahirkan sikap resistensi.

Keberadaan komponen Cadangan maupun bahan Pendukung harus dipandang sebagai wadah dan sarana menyalurkan energies kolektif negara agar sikap militansi di dalam bela negara noel berkembang dulu sikap anarkis apa merusak langkah – langkah diplomasi country Indonesia secara keseluruhan. Melalui pemahaman komprehensif inilah, bela negara dalam spektrum yang keras dapat terselenggara mencapai proporsional sehingga mampu mischer dan memperkuat elemen Utama. Yang perlu dipahami, spektrum bela negara mulai dari spektrum lunak hingga spektrum keras merupakan spektrum bela negara yang noel terputus dan berkelanjutan. Bela negara spektrum lunak merupakan pondasi mendasar terbentuknya kualitas bela country spektrum keras. Artinya, kualitas bela negara spektrum lunak akan berbanding lurus menjangkau kualitas bela negara spektrum keras. Dengan demikian noel dapat dipungkiri bahwa bangunan pemahaman bela negara apa komprehensif di masa damai merupakan faktor kunci keberhasilan terselenggaranya implementasi risalah bela negara batin sistem defence semesta.Intelektual muda dan Peranannya. Bahan Pendukung dikelompokkan dalam lima suku bahan pendukung, yakni Garda Bangsa, tenaga dengan fasih sesuai dengan profesi dan bidang keahliannya, roti isi daging negara lainnya, industri nasional, sarana dan prasarana, serta diperoleh daya buatan dan sumber daya alam apa dapat digunakan karena kepentingan pertahanan. Intelektual muda menempati posisi such komponen pendukung apa sangat potensial dalam mengembangkan potensi pertahanan nirmiliter dimana defence dilakukan melalui usaha tidak punya menggunakan kekuatan senjata, melainkan menjangkau pemberdayaan faktor-faktor ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan teknologi. Batin masa damai maupun masa perang, pada kenyataannya kalangan intelektualnya muda sebagai garda bangsa dalam pertahanan nirmiliter, pribadi peran apa vital dan krusial such kekuatan potensial agen perkebunan perubahan di dalam pembentukan watak dan figure bangsa. Di sentral tantangan perubahan yang membawa tata laku dan tata nilai baru, kalangan muda terpelajar harus mampu membekali dan membentengi ourselves dengan wawasan kebangsaan apa kuat. Generasi muda, utamanya para intelektual anak laki-laki harus mampu memilih dan memilah tata cost baru yang tidak sesuai menjangkau identitas dan jati diri bangsa apa bercirikan semangat satu sama lain royong.

Beratnya tantangan yang dihadapi generasi muda, harus pula disikapi menjangkau menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual mencapai kecerdasan emosional maupun kecerdasan spiritual. Setara ketiga faktor tersebut, diharapkan akan mewujudkan tua kalangan muda yang senantiasa pembayaran tinggi morell dan Etika; Kejujuran dan Kebangsaan. Tanpa keseimbangan ketiga faktor tersebut, kecerdasan apa dimiliki generasi muda justru ini adalah menggerogames-online4.comti memimpin sendi kehidupan bangsa. Kemampuan inilah apa sesungguhnya merupakan wujud bela negara batin spektrum apa halus yang perlu dilakukan oleh kalangan muda di masa damai. Mencapai disertai malu kebangsaan yang kuat, ilmu pengetahuan, kecerdasan dan kompetensi yang dimiliki, merupakan modal utama kalangan intelektualnya muda karena menjalankan keberpihakan bela negaranya batin memperkuat pertahanan bangsa di berbagai bidang kehidupan nasional. Batin perspektif Ketahanan Nasional, justru peran bela negara di dalam spektrum lunak inilah yang akan tekad kualitas pertahanan dan ketahanan negara kedepan. Oleh buat itu, kalangan muda harus menempatkan diri secara cerdas dan mengambil peran aktifnya batin berbagai mengames-online4.comlahnya pembangunan nasional, utamanya dalam pembangunan watak dan figure bangsa. Bab ini harus dilakukan pulih profesi, pengetahuan dan keahlian, serta kecerdasan yang dijiwai melalui semangat kebangsaan merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan karena mengelola berbagai potensi sumber daya alam secara efektif batin membangun perekonomian nasional. Berbekal mencapai potensi apa sama, kalangan muda dalam peran bela negaranya sebagai salah satu kekuatan elemen Pendukung, dapat berpartisipasi batin membangun pilihan dan kemandirian industry strategis apa dibutuhkan batin pertahanan negara.

Penutup

Ketangguhan serta keuletan dan possibilities bangsa buat mengembangkan potensi kekuatan nasional menjadi kekuatan defence negara apa solid, haruss dibangun diatas cost – nilai kebangsaan, nasionalisme dan bela negara. Di dalam perspektif Ketahanan Nasional, ketiga elemen mendasar tersebut merupakan prasyarat apa harus dibina secara dini, terus menerus, terpadu dan berkelanjutan. Terkait chapter inilah, nasionalisme dan bela negara ~ no merupakan retorika di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, namun harus mampu diwujudkan dan diimplementasikan secara sejati oleh seluruh komponis bangsa, utamanya kalangan intelektualnya muda. Kecerdasan intelektual apa merupakan potensial besar apa dimiliki kalangan muda harus mampu dikembangkan secara diimbangi dengan kecerdasan emosional, kecerdasan morell dan kecerdasan spiritual. Setara tersebut dibutuhkan sebagai rangkaian proses bangunan kesadaran individual berasosiasi bela negara. Itulah yang sesungguhnya harus disadari melalui kalangan intelektual muda buat dipahami dan dikerjakan dalam memenuhi ke kanan dan tanggung jawab bela negara batin perspektif Ketahanan Nasional

Daftar rujukan :

Arjoso, Amin .2000. Pancasila radikal Falsafah Negara. Yayasan Kepada Bangsaku. Jakarta.

Chautard, Sophie. 2009. La Geopolitique. 2e edition. Studyrama.

G. Ó Tuathail. 1996. Critical Geopolitics: The national politics of Writing worldwide Space. Minneapolis: university of Minnesota tekan (Volume 6 in the Borderlines series) and also London: Routledge.

Kansil, CST dan Kansil, Christine ST . 2001. Pancasila dan Undang – Undang mendasar 1945. Pradnya Paramita, Jakarta.

Lemhannas RI. 2012. Geostrategi dan Ketahanan Nasional. Jakarta.

Lemhannas RI. 2012. Wawasan Nusantara. Jakarta.

Mumford, Andrew. 2013. Proxy Warfare. Polity Press. Cambridge.

Purnomo Yusgiantoro, Ceramah menkes Pertahanan RI di depan anggames-online4.comta HIPMI pada Kegiatan Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan di Lemhannas RI 18 Februari 2014.

Ruland, Jurgen, 2012. The national politics of military Reform. Springer. London.

Soekarno, Ir. 2012. Susunlah pertahanan Nasional Bersendikan Karakteristik country – Amanat Presiden Soekarno pada Peresmian Lembaga pertahanan Nasional di Istana Negara, tanggal 20 Mei 1965. Jakarta.

Soepandji, Budi Susilo, Bangga Indonesia – menjadi Komponen Cadangan negara Air, PT. Grasindo, cetakan III. 2012.

Soepandji, Budi Susilo, Indonesia Menyongsong Abad Asia pasifik Jilid II batin Perspektif Ketahanan Nasional, kertas Gubernur Lemhannas RI diatas Seminar Nasional manuvernya Mahasiswa Nasional Indonesia, 3 Mei 2014.

Soepandji, Budi Susilo, building Pondasi dasar Nasionalisme, kertas Gubernur Lemhannas RI pada Indonesian Fellowship Youth Camp 2012, tanggal 28 November 2014.

Lihat lainnya: Animasi Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri, Download 31 Kartu Ucapan Idul Fitri Bergerak 2020

Soepandji, Budi Susilo, Peran Strategis Menwa yang Berkemampuan Teknologi sebagai Bagian dari potensial Ketahanan Nasional, makalah Gubernur Lemhannas RI di ~ Sarasehan dan Seminar Nasional 50 five Menwa ITB “Resimen Teknologi” 22 Maret 2014.