Suatu pementasan drama memiliki para pemainyang memerankan peran apa berbeda satu sama lain. Peran padasetiap diri tokoh terutang mendukungjalannya suatu cerita pada pementasan drama. Namun sering para penonton atau penikmatpementasan drama saya baik-baik saja bingung menjangkau peran apa yang dibawakan oleh tokohpada saat pementasan menemani itu berlangsung. Oleh karena itu, dalam item ini akanmembahas berbagai jenis peran mulailah dari pengertian penokohan, types penokohan dan pengertian tokoh yang ada dalam pementasan drama.

Anda sedang menonton: Pengertian tokoh menurut para ahli


*

Diantaranya terdapat peran protagonis, antagonis,deutragonis, tritagonis, foil, dan utility. Biasanya pada sebuahpementasan drama, peran apa sangat highlight adalah peran protagonis dan antagonis, untuk antara senin karakter ini konflik akanterlihat jelas.
Dengan adanya berbagai macam klasifikasipenokohan ini bertujuan untuk mempermudah penikmat sastra dalammengidentifikasi peran maafkan saya yang sedangdibawakan melalui para pemeran drama.Selain peran juga terdapat jenis karakter yang dimainkan melalui para pemeranpementasan drama. Karakter-karakter tersebut adalah level character, ring character, teatrikal, dan karikatural. Keduanya sangatberhubungan erat sehingga noel dapat dipisahkan satu kemiripan lain. Untukmemudahkan mengklasifikasi jenis-jenis karakter, disini also akan membahasmengenai teknik penggambaran tokoh.
Ketika kita menyaksikan sebuah pementasandrama pasti terdapat alur pada ceritayang dipentaskan. Noel akan ada konfigurasi yangceritanya monoton, merencanakan itu pasti ini adalah naikturun, sesuai terdapat eksposisi, klimaks, resolusi, dan go sebagainya.
Biasanya seseorang dirasa bingung dengan konfigurasi yang used dalam sebuahcerita. Apakah merencanakan yang used tersebut konspirasi maju ataukah alur mundur.Untuk mudah menentukan konspirasi maka terdapat structure dramatik yangmembantu.
Dalam merencanakan terdapat struktur dramatik, karenakeduanya mendesak berkaitan erat. Structure dramatik terdiri dari bagian-bagianyang memuat unsur-unsur alur. Crowd para ahli yang berpendapat mengenai unsurdramatik ini, diantaranya pendapat dari Gustav Freytag, Wiliiam Henry Hudson,Brander Mathews, wetland Cassady, Kernodle, dan Lynn Altenbernd dan LeslieL. Lewis.Pendapat para ahli ini berbeda-beda namun maksudnya sama. Oleh karena itu,penokohan dan struktur dramatik akan diulas lebih mendalam pada jadwal acara ini.
Pengertian penokohan menurut Dewojati (2010:169 )adalah unsur karakter yang dalamdrama biasa berpendapatan tokoh adalah bahan yang paling aktif buat menggerakkanalur. Lewat penokohan ini, pengarang dapat mengungkapkan alasan logis terhadaptingkah laku tokoh. Perwatakan ataukah penokohan batin suatu cerita adalahpemberian sifat baik lahir maupun dalam pada seorang pelaku ataukah tokoh yangterdapat pada tale (Hayati, 1990:119).
Menurut Santosa, dkk (2008:90)penokohan merupakan usaha untuk membedakan peran satu mencapai peran apa lain.Perbedaan-perbedaan peran ini diharapkan become diidentifikasi melalui penonton.Jika proses identifikasi ini berhasil, maka perasaan penonton ini adalah merasaterwakili malalui perasaan peran yang diidentifikasi tersebut.
Penokohan atauperwatakan batin sebuah lakon tetaptiongkok peranan apa sangat penting. Egri dalamSantosa, dkk (2008:90), berpendapat bahwa berperwatakanlah yang most utamadalam lakon. Tidak punya perwatakan noël akan ada cerita, tidak punya perwatakan tidakbakal ada alur. Padahal ketidaksamaan watak akan melahirkan pergeseran,tabrakan kepentingan, konflik apa akhirnya melahirkan cerita Hamzah (1985dalam Santosa, dkk, 2008:90).
Menurut Luxemburg, Bal, dan Weststeijn(1984:171), istilah tokoh dipergunakan apabila debate mengenai sifat-sifatpribadi seorang pelaku, sedangkan istilah pelakunya bila kita membahas instasiatau peran apa bertindak atau berbicara batin hubungannya mencapai alurperistiwa.
Luxemburg berbata pelukisan watak dulu dua, yaitu pelukisan wataksecara eksplisit dan pelukisan watak secara implisit. Pelukisan watak secaraeksplisit, watak seorang tokoh dapat dilukiskan melalui komentator seorang pelakulain. Seorang tokoh tambahan dapat menggambarkan wataknya sendiri. Di sini seluruhtokoh menyertainya merupakan mendasar apakah itu pantas dipercaya atau tidak. Pelukisanwatak secara implisit, pelukisan ini terjadi lewat perbuatan dan ucapan, dansebetulnya lebih cukup daripada pelukisan eksplisit.
Hudson (1958 batin Budianta, 2002:106) menyatakanbahwa konspirasi lebih secara signifikan daripada tokoh buat tokoh hanya karena mengisi danmenyelesaikan merencanakan itu, dan tokoh lebih secara signifikan daripada merencanakan karena konfigurasi hanyadipergunakan untuk mengembangkan tokoh.
Hudson masser mengatakan bahwapementingan terhadap tokoh lebih major dibandingakan menjangkau pementinganterhadap alur, hal ini disebabkan sesuatu cerita akan meninggalkan terkesan yangdalam dan juga mungkin keabadian lantaran penokohan di dalam cerita itu begitukuat dan meyakinkan dalam membangun konfigurasi cerita.
Dalam bukunya, Hudson mendefinisakan bahwa tokoh adalah unsur yangpaling penting batin sebuah pementasan drama, karena tanpa adanya tokoh pasti tidak akan ada pementasan drama.Penokohan tambahan dapat digunakan untuk membedakan peran yang satu menjangkau peranyang lain, buat antara tokoh apa satu dengan yang lain menjadi mempunyaikarakter apa berbeda-beda.
Wahyuningtyas dan Santosa(2011:3) terbagi tokoh-tokoh cerita dalam sebuah karya dibedakan dulu tokohutama, tokoh tambahan, tokoh protagonis, dan tokoh tambahan. Tokoh utama adalahtokoh apa diutamakan penceritaannya. Ia merupakan tokoh yang paling banyakdiceritakan, baik such pelaku kejadian maupun apa dikenai kejadian.
Tokohtambahan adalah tokoh yang noël sentral posisinya dalam tale tetapikehadirannya sangat diperlukan buat mendukung tokoh utama. Tokoh batin dramamengacu di atas watak (sifat-sifat memiliki seorang pelaku, sementara aktor ataupelaku mengacu di atas peran yang bertindak atau berbicara batin hubungannyadengan alur peristiwa (Wiyatmi, 2006:50).
MenurutSantosa, dkk (2008:90), peran merupakan sarana utama di dalam sebuah lakon, sebabdengan adanya peran maka meningkatkan konflik. Bentrok dapat dikembangkan malalui penulis lakon melaluiucapan dan tingkah laku peran. Batin teater, peran dapat dibagi-bagi sesuaidengan motivasi-motivasi yang diberikan melalui penulis lakon. Motivasi-motivasiperan inilah apa dapat melahirkan suatu perbuatan peran. Peran-peran tersebutadalah kemudian berikut.
Protagonisadalah peran utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita. Keberadaanperan adalah karena mengatasi persoalan-persoalan yang muncul selama mencapaisuatu cita-cita. Persoalan ini sanggup dari tokoh lain, sanggup dari alam, bisa jugakarena diterjunkan dirinya sendiri. Peran ini tambahan menentukan jalannya cerita.
Daricuplikan drama Jangan Menangis Indonesia diatas, peran protagonis dalam dramatersebut adalah Seseorang, dapat dilihat batin naskah tersebut bahwa Seseorangini dulu peran utama yang dijadikan ruang angkasa pengaduan tokoh lain.
Antagonis adalah peran lawan, untuk dia seringkalimenjadi musuh apa menyebabkan tabrakan itu terjadi. Tokoh protagonis danantagonis harus memungkinkan menjalin pertikaian, dan sengketa itu harusberkembang dengan klimaks. Tokoh antagonis harus memiliki watak yang kuat dankontradiktif terhadap tokoh protagonis.
Pada drama Jangan Menangis indonesiayang berperan sebagai tokoh protagonis adalah Jendral, bab ini dapat dibuktikandengan adanya dialog
“Brengsek!Konyol! Pemalas! bodo kebo! dasar pribumi! Gelo sia! Begitu saja noël becus!Mengangkat kardus kemudian mengangkat langit. Semprul! Ayo jangan digondeli. Kerja ndak cari untung! Angkat!Dasar budak! satu sama lain royong! Maunya kok menelan. Mendasar kemaruk! Otak udang!Angkat bangsat! Kuntilanak. Penampilan sendiri ini negeri kacau. Manusia-manusiatidak memenuhi syarat. Begini mau merdeka? standing saja noël bisa. Ini maumendirikan country Tahi kerbau! Nggak usah merdeka, belajar enim budak dulu!”.
Dalamdialog tersebut cantik tergambar clearly bahwa peran yang dibawakan melalui Jendralini ikut unsur yang kontra mencapai tokoh Seorang yang were tempatcurahan trần tokoh lain.
Deutragonis adalah tokoh lain apa berada di pihak tokohprotagonis. Peran ini ikut mendukung rampung permasalahan apa dihadapioleh tokoh protaganis.
Tritagonis adalah peran penengah apa bertugas menjadipendamai atau pengantara protagonis dan antagonis.
Foil adalah peranyang noël secara langsung terlibat batin konflik yang terjadi tetapi iadiperlukan guna rampung cerita. Biasanya dialah berpihak diatas tokohantagonis.
Utility adalah peran helper atau kemudian tokoh pelengkapuntuk mendukung rangkaian tale dan kesinambungan dramatik. Konvensional tokoh inimewakili jiwa penulis.
Kernodle (dalam Dewojati, 2010:170) mengungkapkanbahwa ilustrasi biasanya diciptakan mencapai sifat dan kualitas apa khusus.Karakter tidak hanya berupa pengenalan tokoh melalui umur, bentuk fisik,penampilan, kostum, tempo atau irama permainan tokoh, tetapi tambahan sikap batintokoh yang dimilikinya. Setiap karakter batin sebuah lakon always berhubunganerat mencapai karakter apa lain. Characteradalah orang-orang apa ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama yangoleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas morell dan tren tertentuseperti apa diekspresikan di dalam ucapan dan what yang dilakukan di dalam tindakan(Abrams (1981) di dalam wahyuningtyas (2011:5)).Menurut Santosa, dkk (2008:91), figure adalah jenis peran apa akandimainkan, sedangkan penokohan adalah mengolahnya kerja untuk memainkan peran yangada batin naskah lakon. Penokohan ini tradisional didahului mencapai menganalisisperan tersebut sehingga bisa dimainkan. Menurut Saptaria (2006 dalam Santosa,dkk, 2008:91), jenis karakter dalam teater ada empat macam, yaitu flat character,round charakter, teatrikal, dan karikatural.
Flatcharacter atau figure datar adalah figure tokoh yang ditulisoleh penulis lakon secara datar dan konvensional bersifat hitam putih. Karaktertokoh di dalam lakon mengacu diatas pribadi manusia yang berkembang benar denganperkembangan lingkungan. Jadi perkembangan karakter seharusnya mengacu padapribadi manusia, yang merupakan akumulasi dari pengalaman-pengalaman daninteraksi-interaksi apa dilakukannya dan terus berkembang. Penulis lakonadalah orang apa memiliki dunia sendiri yaitu dunia fiktif, sehingga ketikamencipta sebuah karakter dialah bebas tentukan suatu development karakter. Flatcharacter ini ditulis dengan noel mengalami evolusi emosi maupunderajat statusnya sosial batin sebuah lakon. Flat character biasanyaada diatas karakter tokoh yang noel terlalu berbiaya atau malu tokohpembantu, tetapi diperlukan batin sebuah lakon.
Roundcharacter adalah figure tokoh batin lakon yang mengalamiperubahan dan perkembangan baik secara kepribadian maupun status sosialnya.Perkembangan dan perubahan ini mengacu diatas perkembangan memiliki orang dalamkehidupan sehari-hari. Development inilah yang menjadikan malu ini menarikdan mampu untuk mengerakkan beraliran cerita. Malu ini tradisional terdapatkarakter tokoh terutama baik tokoh protagonis maupun tokoh antagonis.
Teatrikal adalah karakter tokoh yang noël wajar,unik, dan lebih bersifat simbolis. Karakter-karakter teatrikal jarang dijumpaipada lakon-lakon realis, tetapi sangat banyak dijumpai di ~ lakon-lakon klasikdan no realis. Malu ini hanya simbol dari psikologi masyarakat, suasana,keadaan jaman dan lain-lain yang noel bersifat manusiawi tetapi dilakukan olehmanusia.
Karikatural adalah ilustrasi tokoh yang tidak wajar,satiris, dan cenderung menyindir. Malu ini segaja diciptakan malalui penulislakon seperti penyeimbang antara kesedihan dan kelucuan, antara ketegangandengan keriangan suasana. Sifat karikatural ini mungkin berupa dialog-dialog yangdiucapkan oleh ilustrasi tokoh, bisa juga dengan tingkah laku, ~ perpaduanantara ucapan dengan tingkah laku.
Adapun teknik penggambaran tokoh di dalam menentukansuatu tokoh dalam sebuah drama. Teknik mewakili tokoh menurut Altenbernddan Lewis (1966 batin Wahyuningtyas dan Santosa, 2011:4) kemudian berikut.
(1)Secara analitik, yaitu pelukisan tokohcerita yang dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, dan penjelasansecara langsung.
(2) Secaradramatik, yaitu pengarang noël langsung mendeskripsikan sikap, sifat, dantingkah laku tokoh, tetapi oleh beberapa teknik lain, yaitu teknik cakapan(percakapan apa dilakukan melalui tokoh-tokoh cerita untuk menggambarkansifat-sifat tokoh yang bersangkutan), teknik tingkah laku, teknik ingat danperasaan, teknik arus kesadaran, teknik reaksi tokoh, teknik reaksi tokoh lain,teknik pelukisan latar, dan teknik pelukisan fisik (teknik menggambarkan keadaanfisik tokoh).
Kitabanyak berhutang budi kepada Aristoteles, seorang filsuf Yunani yang telahmenulis Poetics buat mengenali alur,karakter, pemikiran, diksi, musik, dan spektakel dari tragedi. Menurut Santosa,dkk (2008:76), struktur dramatik merupakan bagian dari konspirasi karena di dalamnyamerupakan satu normal peristiwa apa terdiri dari bagian-bagian apa memuatunsur-unsur alur.
Struktur dramatik ini tidakdapat dipisahkan dengan konspirasi karena keduanya memiliki atau membentukstruktur dan saling berkesinambungan dari awal tale sampai akhir. Fungsi daristruktur dramatik ini adalah kemudian perangkat buat lebih dapat mengungkapkanpikiran pengarang dan melibatkan ingat serta perasaan penonton nanti dalam lakucerita. Mengajar dramatik Aristotelian pribadi elemen-elemen pembentuk strukturyang terdiri dari eksposisi, komplikasi, klimaks, resolusi, dan kesimpulan.
IdeAristoteles tentang alur drama kemudian dikembangkan melalui Gustav Fteytag(Dewojati, 2010:164). Freytag dalam Santosa, dkk (2008:76) menyatakan bahwadalam menggambarkan struktur dramatiknyamengikuti elemen-elemen tersebut dan menempatkannya dalam adegan-adegan lakonsesuai laku dramatik yang dikandungnya. Struktur Freytag ini dikenal dengansebutan piramida Freytag.
Eksposisiadalah penggambaran start dari sebuah lakon. Berisi tentang perkenalan karakter,masalah yang akan digulirkan. Penonton diberi informasi atas mengganggu yangdialami ataukah konflik yang terjadi dalam karakter apa ada batin naskah lakon.
Padabagian ini mulailah terjadi kerumitan atau komplikasi apa diwujudkan menjadijalinan peristiwa. Disini juga sudah mulailah dijelaskan laku malu untukmengatasi konflik dan noël mudah untuk mengatasinya sehingga meningkatkan frustasi,amukan, ketakutan, dan kemarahan. Menabrak ini semakin rumit dan membuatkarakter-karakter apa memiliki menabrak semakin tertekan serta berusaha untukkeluar dari konflik tersebut.
Klimaksadalah puncak dari laku lakon dan periode kulminasi mencapai titik. Pada titikini segenap permasalahan become terurai dan mendapatkan penjelasan melalui lakukarakter maupun lewat dialog yang disampaikan malalui peran. Mencapai terbongkarnyasemua masalah yang melingkupi keutuhan lakon diharapkan penonton akanmengalami katarsis atau proses rapi emosi dan memberikan cahaya murnipada jiwa penonton.
Resolusiadalah penurunan emosi lakon. Penurunan ini noël saja berlaku bagi emosi lakontapi tambahan untuk menurunkan emosi penonton. Dari awal emosi penonton sudahdiajak naik dan dipermainkan. Falling merencanakan ini also berfungsi untukmemberi persiapan times pada penonton untuk merenungkan maafkan saya yang telahditonton. Periode ini biasanya ditandai malalui semakin lambatnya emosi permainan,dan nada suara aktor lebih bersifat menenangkan.
Kesimpulanadalah mapan dari lakon tersebut, baik berakhir dengan senang maupunmenderita atau sedih.
MenurutDewojati (2010:164), pola struktur alur Freytag sebagai di atas tidak dipakaisecara sering oleh para penulis drama modern. Di atas drama modernis biasanya posisiklimaks diletakkan di dekat bagian akhir cerita (Whiting di dalam Dewojati(2010:165)).
MenurutHudson di dalam Tambajong (1981:35), konspirasi dramatik pengaturan menurut maafkan saya yangdinamakan dengan mendayung laku. Garis laku lakon dalam skema ini also melaluibagian-bagian tertentu yang dapat dijabarkan such berikut.
Padabagian eksposisi ini adalah saat yang tepat buat memperkenalkan danmembeberkan karakter-karakter yang ada, sesuai terjadinya peristiwa tersebut,peristiwa what yang sedang dihadapi melalui karakter-karakter yang ada dan lainsebagainya.
Padainsiden permulaan ini start teridentifikasi insiden-insiden apa memicukonflik, baik apa dimunculkan oleh tokoh major maupun tokoh pembantu.Insiden-insiden ini akan menggerakkan konfigurasi dalam lakon.
Padabagian ini merupakan tindak next dari insiden-insiden yang teridentifikasitersebut. Konflik-konflik apa terjadi antara karakter-karakter semakinmenanjak, dan semakin mengalami komplikasi yang ruwet. Jalan dilepas darikonflik tersebut terasa samar-samar dan tak menentu.
Krisisadalah keadaan accordingly lakon berhenti di ~ satu titik yang sangat menegangkanatau menggelikan sehingga emosi penonton tidak bisa apa-apa. Menurut Hudsondalam Santosa, dkk (2008:80), klimaks adalah tangga apa menunjukkan laku yangmenanjak nanti titik balik, dan ndak titik jepit itu sendiri. Sedangkan titikbalik sudah menunjukan suatu peleraian sesuai emosi lakon maupun emosi penontonsudah mulai menurun.
Penyelesaianatau denoument yaitu bagian lakon apa merupakan taraf penurunan emosidan jalan keluar dari tabrakan tersebut cantik menemukan jalan keluarnya.
Semuakonflik yang terjadi di dalam sebuah lakon sanggup diakhiri, baik itu beranjak sesuatuyang meskipun maupun beranjak sesuatu apa menyedihkan.
Mathewsdalam Santosa, dkk (2008:80), stressed pentingnya tensi dramatik. Perjalanancerita satu lakon luaran penekanan atau tegangan (tensi) individu dalammasing-masing bagiannya. Voltase ini mengacu pada persoalan apa sedangdibicarakan atau dihadapi.
Dengan mengatur biaya tegangan pada bagian-bagianlakon secara benar maka efek dramatika yang dihasilkan menjadi semakin baik.Pengaturan tensi dramatik yang baik become menghindarkan lakon dari situasi yangmonoton dan menjemukan. Titik memuat penekanan tegangan pada masing-masing bagianakan memberikan petunjuk laku apa jelas bagi aktor sehingga mereka tidakkehilangan intensitas dalam permainan dan dapat mengatur irama aksi.
Bagianawal ataukah pembukaan dari sebuah cerita yang memberikan gambaran, penjabaran danketerangan-keterangan mengenai tokoh, masalah, waktu, dan tempat. Bab ini harusdijelaskan ataukah digambarkan kepada penonton agar penonton mengerti.
Nilaitegangan dramatik di ~ bagian ini masih berjalan wajar-wajar saja. Teganganmenandakan kenaikan tetapi batin batas wajar untuk tujuannya adalah pengenalanseluruh tokoh dalam tale dan mengunci pembuka awalan persoalan.
Sebuahperistiwa ataukah aksi tokoh yang membangun penanjakan menuju konflik. Di atas bagianini, penekanan tegangan dramatik mulai dilakukan. Tale sudah mau mengarahpada konflik sehingga emosi para tokoh pun harus start menyesuaikan. Penekanantegangan ini terus berlanjut sampai menjelang komplikasi.
Komplikasimerupakan susulan dari penanjakan. Pada bagian ini deviasi seorang tokoh mulaimengambil prakarsa buat mencapai gawangnya tertentu atau melawan satu keadaanyang menimpanya. Di ~ tahap gejala ini kesadaran akan adanya persoalan dankehendak untuk bangkit melawan awal dibangun. Penekanan voltase dramatikmulai terasa karena seluruh tokoh berada di dalam situasi apa tegang.
Nilaitertinggi di dalam perhitungan tensi dramatik accordingly penanjakan apa dibangunsejak mulai mengalami puncaknya. Setiap orang tokoh yang berlawanan temu di sini.
Mempertemukanmasalah-masalah apa diusung melalui para tokoh menjangkau tujuan untuk mendapatkansolusi atau pemecahan. Tensi dramatik mulailah diturunkan. Setiap orang pemain mulaimendapatkan titik terang dari setiap orang persoalan apa dihadapi.
Tahapakhir dari peristiwa lakon tradisional para tokoh mendapatkan menjawab atasmasalahnya. Pada tahap ini peristiwa lakon diakhiri. Meskipun begitu nilaitensi tidak kemudian nol tetapi paling tidak berada lebih besar dari bagianeksposisi karena pengaruh emosi atau tensi apa diperagakan pada bagiankomplikasi dan klimaks.
Modelstruktur dramatik dari Cassady di dalam Santosa, dkk (2008:82) menekankanpentingnya turning ataukah changing allude (titik jepit perubahan)yang mengarahkan tabrakan menuju klimaks. Titik menggoreng ini dulu bidang kajianyang sangat secara signifikan bagi sutradara berkaitan dengan laku malu tokohnyasehingga puncak konflik dulu jelas, tajam, dan memikat.
Kernodle dalam Dewojati (2010:167) terbagi perkembanganalur menjadi beberapa bagian kemudian berikut.
Menjelaskan kepada penontonapa apa telah terjadi sebelumnya dan bagaimana situasinya sekarang ini.Selanjutnya, konfigurasi kemudian bergerak usai titik serangan apa memicu munculnyakekuatan penggerak.
Munculnya gejala demikomplikasi dalam tale yang menimbulkan ketegangan. Then keteganganmeningkat batin build (pertumbuhan),yang lambat laun membesar dan menimbulkan minorclimax (klimaks kecil), apa lalu mengikuti oleh penurunan.
Terdapat bentrok masa depan.Hal ini menekankan dengan adanya situasi “ancaman” apa mendorong masuknya peristiwa usai dalam ketegangan besar,krisis besar, memuncaknya ketegangan batin klimaks besar.
MenurutAltenbernd batin Dewojati (2010:186), tabrakan adalah radikal sebuah merencanakan karena alur terbangundengan adanya konflik-konflik apa muncul batin drama.
Dariuraian pada dapat disimpulkan bahwa penokohan merupakan unsur secara signifikan dalamsebuah pementasan drama. Dengan adanya penokohan ini penonton bisa membedakantokoh satu mencapai tokoh yang lainnya untuk setiap tokoh mempunyai peran dankarakter apa berbeda-beda yaitu protagonis, antagonis, deutragonis, tritagonis, foil, utility atau flatcharacter, ring character,teatrikal, dan karikatural.
Struktur dramatik merupakan bagiandari konspirasi sehingga struktur dramatik dan merencanakan ini tidak dapat dipisahkan. Bilaalur noel ada maka structure dramatik ini also tidak ini adalah ada untuk strukturdramatik mengacu di atas alur. Struktur dramatik menjelaskan lebih mendetailmengenai unsur-unsur alur dengan berbagai pendapat para ahlinya.
Dewojati, Cahyaningrum. 2010.Drama Sejarah, Teori, dan Penerapannya.Yogyakarta: Gadjah Mada college Press.
Wahyuningtyas, Sri, dan wijaya Heru Santosa. 2011.Sastra: teori dan Implementasi.Surakarta: Yuma Pustaka.Wariatunnisa, extraterrestrial dan Yulia Hendrilianti. 2010.Seni Teater untuk SMP atau MTs Kelas VII, VIII, dan IX(Rahmawati, Irma dan Ria Novitasari, Ed). Jakarta: sentral Perbukuan, Kementerian PendidikanNasional.

Lihat lainnya: Info Berita Politik Jawa Timur Hari Ini, Politik Pemerintahan


Demikian penjabaran mengenai pengertian tokoh, jenis-jenis penokohan dan pengertian penokohan menurut para ahli
. Firmicutes ikuti upgrade dari kami buat mendapatkan insula pendidikan apa bermutu. Terima kasih.